Maple Girl

It's my blog, It's my world

Cinta Tidak Buta

Image [image by Shanice A. Rodriguez (Queens, NY)]

Orang bilang, cinta itu buta

Saya bilang, yang buta itu mata hati dan pikirannya

Karena itulah kenapa banyak orang yang menggunakan alasan “cinta itu buta” untuk tindakan-tindakan tidak rasional yang dia lakukan. Orang itu sebenarnya paham betul bahwa yang dia lakukan berlebihan dan tidak benar, tapi dia tidak mau menyalahkan dirinya sendiri, dia menyalahkan cinta, jelas, pikirannya sesat, mata hatinya tersumbat.

Menurut saya, orang paling gila yang ada di dunia adalah mereka yang bunuh diri hanya karena cinta, entah kenyataannya ada atau tidak tapi saya pernah beberapa kali membaca di berita mengenai kasus bunuh diri dengan alasan cintanya ditolak atau diduakan (mungkin malah ditigakan). Dan bagi saya, tidak ada orang paling bodoh kecuali mereka yang mau melakukan semua yang dikatakan oleh orang yang dicintainya. Bodoh. Memangnya dengan melakukan semua suruhannya, orang tersebut bisa jatuh cinta dengan kita? Justru itu yang namanya diperalat, dimanfaatkan.

Meskipun pengalaman saya dalam hal mencintai masih sangat sedikit, bahkan setetes air pun belum dapat dijadikan takaran, tapi justru karena itulah saya di sini, dengan akal sehat yang masih saya miliki berusaha memberikan nasehat, well kalau nasehat terkesan berlebihan, anggap saja sebagai pendapat. Dari pengalaman-pengalaman orang lain mengenai cinta, saya mungkin lebih bisa berpikir jernih dalam menilai cinta. Siapa tahu mungkin suatu saat saya berada diposisi sedang dibutakan cinta, jadi setidaknya ketika membaca tulisan saya ini, saya segera menyadarinya. Tapi saya akan selalu berdoa hal itu tidak terjadi, karena saya tidak mau menjadi orang paling gila dan paling bodoh di dunia.

Pembutaan cinta yang sering membuat saya gemas adalah ketika seseorang dibodohi cintanya. Dia akan melakukan segalanya untuk orang yang dicintainya. Dia merasa memiliki harapan apabila orang dicintainya itu meminta dia melakukan sesuatu. Dia bahkan tetap melakukannya meski dia tahu tidak ada harapan untuknya. Banyak hal yang akan dia korbankan untuk seseorang tersebut, dia akan mengorbankan waktunya, temannya, hobinya, bahkan keluarga dan cita-citanya demi satu cinta itu.

Seperti yang saya katakan sebelumnya, saya tidak bermaksud memberikan nasehat. Saya hanya ingin menyindir orang-orang seperti itu dan menyadarkan mereka, bahwa masih banyak hal yang bisa kita cintai yang juga mencintai kita. Jangan berkorban untuk orang yang kita cintai, karena orang yang mencintai kita tidak akan pernah membiarkan kita berkorban seperti itu. Jadi mulai detik ini, anda harus sadar dengan tindakan anda yang mengatas namakan cinta tersebut. Pantaskah kita, sebagai makhluk mulia, mengorbankan banyak hal untuk orang yang kita cintai?yang bahkan kita sendiri tidak tahu kebenaran cintanya pada kita.

Advertisements
Leave a comment »

“Hari … Nasional”

Tanggal 2 Oktober kemarin diperingati sebagai hari batik nasional. Sedikit ketinggalan memang, tapi boleh dong saya memberikan sedikit opini di sini.Image

Anda sah-sah saja menganggap saya gaptek (gagap teknologi) atau gak gaul karena saya kurang update berita di jejaring sosial. Tapi setidaknya, saya tetap update berita di televisi atau koran kok. Meskipun ternyata saya sadari, informasi yang ada di jejaring sosial lebih update dibandingkan berita di televisi. Gak heran disaat semua orang sudah berlomba-lomba mengucapkan “Selamat Hari Batik Nasional”, saya justru baru tahu siang harinya saat melihat berita tentang ulasan hari batik.

ImageImage

Yang namanya peringatan, haruskah dirayakan? Seperti halnya dengan peringatan hari batik ini, haruskah kita memakai baju batik pada tanggal tersebut? Saya rasa tidak. Mmm, anda boleh menilai saya acuh, cuek, gak punya rasa nasionalisme , dan lain-lainnya… Tapi eits, what’s your reason?? Karena saya tidak memakai baju batik di hari batik nasional, jadi saya langsung di cap tidak punya rasa nasionalisme begitu? Oke kalau begitu, coba kita pikir lagi. Mending pakai batik hanya setahun sekali biar dipuji orang, atau memakai batik seminggu sekali karena stok kemeja kuliah terbatas? Pilihan yang kedua tentu tidak menimbulkan pujian seperti pilihan pertama, bukan? Tapi kalau anda adalah orang bijak, anda tidak akan men-judge orang-orang seperti saya sebagai orang yang tidak peduli dengan kekayaan budaya bangsa.

Hampir serupa dengan peringatan hari batik, ketika hari bumi, banyak pihak-pihak yang gencar mensosialisasikan earth-hour yang berarti selama satu jam mematikan arus listrik di rumah. Memang sih dengan begitu dapat membantu mengurangi global warming yang hingga saat ini masih menjadi isu hangat, tapi percuma juga kalau satu jam tersebut hanya dilakukan saat peringatan saja, sedangkan di waktu lain seolah hilang ingatan dengan apa yang sudah dia lakukan saat peringatan hari bumi. Seingat saya, belum pernah saya melakukan earth-hour tersebut pada saat peringatan hari bumi. Mau bagaimana lagi? Saya membutuhkan earth-hour tersebut untuk mengerjakan laporan dan tugas kuliah yang dikejar deadline. Tapi bukan berarti juga saya tidak peduli dengan bumi yang semakin memanas ini. Sebagai gantinya, saya selalu berusaha menghemat listrik seperti meminimalisasi penggunaan lampu, menghemat air (bukan berarti mandi sehari sekali lho ya), tidak menyalakan kipas angin apalagi AC bila panasnya tidak mencapai 390C, hehehe :P, sampai mematikan mesin kendaraan saat di lalu lintas.

Hari peringatan sebenarnya diadakan agar kita ingat, ya walaupun beberapa orang sering hilang ingatan setelahnya 😛 , tetapi bukan berarti kemudian di hari peringatan tersebut kita melakukan apa yang dianggap orang sedang menjadi trend. Sama seperti hari kasih sayang, kenapa kasih sayang hanya diberikan pada tanggal 14 Februari kalau setiap hari bisa dijadikan sebagai hari kasih sayang? Ya tho? Nah, coba deh bersikap bijak dengan tidak men-judge orang yang tidak memakai hari batik pada tanggal 2 Oktober atau tetap menyalakan laptop meskipun peringatan hari bumi, oke! 😀

Leave a comment »

Mengeluh Tiada Guna

Too much.. too much.. too much.. Terlalu banyak yang ingin saya tulis di sini. Ide topik selalu menjadi tantangan dalam menulis. Inspirasi itu layaknya jalangkung yang datang tak diundang. Tapi sebagian besar pengalaman saya, inspirasi menulis saya dapatkan ketika saya selesai membaca sebuah buku. Gak bisa dihindari, siang ini pun seketika juga gairah untuk menulis muncul setelah saya membaca sebuah buku yang rasanya ingin saya rekomendasikan ke orang-orang. Buku non-fiksi berjudul “Ms. Complaint’s Therapy” karya Ms.C! ini memang patut dibaca banyak orang. Isinya bercerita realita dan lebih bertujuan untuk menyindir. Buku ini saya peroleh kemarin di salah satu toko buku di Yogyakarta setelah setahun lamanya saya mencari buku ini kemana-kemana. Berawal ketika saya sedang memanjakan diri di salon, sambil menunggu giliran, saya membaca majalah yang disediakan di salon tersebut. Di bagian referensi buku dan film, buku ini langsung menarik perhatian saya karena judul dan gambar covernya. Meskipun saya sendiri tidak tahu isinya, dan meskipun buku tersebut tidak terpampang ‘best seller’ atau semacamnya, saya penasaran ingin membaca. Terbukti, baru setengah halaman saya baca, saya sudah puas dan tidak rugi berjuang mencari buku ini. Dari awal saya membaca hingga sekarang, kurang lebih ada 4 ide topik yang ingin saya tulis hari ini dan saya posting ke blog saya. Sayangnya, blog saya sedang bermasalah, jadi mungkin besok atau lusa baru saya posting, itupun seandainya blog saya dapat kembali normal.

Meskipun kondisi badan sedang tidak mendukung, tapi keinginan dan kecintaan saya akan menulis mengalahkan itu semua, lebay banget deh ya. Bahkan topik yang akan saya tulis berkaitan dengan kondisi badan saya yang sakit ini. So, just reading, and have fun.

Sama seperti Ms. C! yang tidak menyukai orang-orang yang suka mengeluh tapi tidak melakukan apa-apa, saya pun begitu. Anda mungkin juga termasuk orang-orang yang akan saya bahas kali ini.

Dari kemarin, badan saya memang sudah tidak bisa diajak kompromi. Kepala migren, badan meriang, ditambah perut mual membuat saya tidak nafsu makan. Padahal yang membuat saya sakit seperti itu bermula dari kesalahan saya yang telat makan, alhasil, lambung saya ngambek. Ditambah perjalanan panjang dari Yogyakarta menuju rumah di Semarang, kondisi saya semakin memprihatinkan. Begitu sampai di rumah dan bertemu Ibu saya, beliau justru menyalahkan saya karena telat makan. Dan seketika itu juga, saya ingat, saya juga selalu menyalahkan kakak dan teman saya yang sakit akibat kesalahan mereka sendiri.

Bukan bermaksud memamerkan diri, tapi anggap saja sebagai kalimat penjelas, saya adalah orang yang keras dan kurang perhatian. Mungkin karena itu, setiap ada teman atau kakak saya sakit, saya bukannya menghibur mereka tetapi justru mengomeli mereka. Kenapa? Karena mereka sakit akibat kelalaian mereka sendiri. Pernah saya punya teman akrab (yang sekarang tidak akrab lagi) sering sakit-sakitan. Setiap pagi perutnya mual (eits tapi bukan lagi hamil ya), dia memang punya maag akut. Sebagai teman baiknya, setiap pagi sebelum kuliah, saya selalu memastikan apakah dia sudah sarapan atau belum. Waktu itu sebelum saya sempat bertanya tentang kondisinya, dia terlebih dahulu mengatakan bahwa badannya sedang tidak sehat. Balasan saya adalah pertanyaan apakah dia sudah sarapan, dan saya lega ketika dia berkata dia sudah sarapan. Pertanyaan saya lanjutkan “tadi sarapan apa?” dan saya tercengang ketika dia berkata, “aku udah sarapan wafer dua”. Oh God.. saya baru tahu ternyata wafer itu bisa dijadikan sarapan, fiuuh, miris. Yang semula saya iba berubah menjadi omelan panjang ke teman saya itu, intinya “jangan mengeluh sakit kalau penyakitnya kamu buat sendiri.” Pingin rasanya diakhiri kata stupid, tapi saya gak se-heartless itu kok.

Hampir serupa dengan kejadian teman saya, kakak saya juga begitu. Badan kakak saya yang lebih kecil dari saya memang terlihat kurang segar dan seperti orang sakit. Kakak saya juga punya penyakit maag akut dan terkadang suka sakit gak jelas. Ketika sakit gak jelasnya itu kambuh, saya hanya bisa diam, bukan karena sudah kebiasaan melihat dia sakit, tapi karena saya sudah lelah menasehati. Sudah menjadi kebiasaan dan kesukaan kakak saya tidur siang di lantai hanya beralas selimut bali yang tipisnya kayak tisu itu. Alasannya karena dia kepanasan. Dan itu tetap dia lakukan saat sakit gak jelasnya kambuh. Hah, ya sudahlah, gimana bisa sembuh kalau begitu. Mulut saya sampai berbusa menasehati dia.

Nah kan, jadi kalau sakit, yang perlu dilakukan itu minum obat, makan yang banyak, dan istirahat cukup, bukan justru ngeluh ke orang atau malah update ke jejaring sosial. Ckck, useless tauk.

Leave a comment »