Maple Girl

It's my blog, It's my world

Mengeluh Tiada Guna

on October 8, 2013

Too much.. too much.. too much.. Terlalu banyak yang ingin saya tulis di sini. Ide topik selalu menjadi tantangan dalam menulis. Inspirasi itu layaknya jalangkung yang datang tak diundang. Tapi sebagian besar pengalaman saya, inspirasi menulis saya dapatkan ketika saya selesai membaca sebuah buku. Gak bisa dihindari, siang ini pun seketika juga gairah untuk menulis muncul setelah saya membaca sebuah buku yang rasanya ingin saya rekomendasikan ke orang-orang. Buku non-fiksi berjudul “Ms. Complaint’s Therapy” karya Ms.C! ini memang patut dibaca banyak orang. Isinya bercerita realita dan lebih bertujuan untuk menyindir. Buku ini saya peroleh kemarin di salah satu toko buku di Yogyakarta setelah setahun lamanya saya mencari buku ini kemana-kemana. Berawal ketika saya sedang memanjakan diri di salon, sambil menunggu giliran, saya membaca majalah yang disediakan di salon tersebut. Di bagian referensi buku dan film, buku ini langsung menarik perhatian saya karena judul dan gambar covernya. Meskipun saya sendiri tidak tahu isinya, dan meskipun buku tersebut tidak terpampang ‘best seller’ atau semacamnya, saya penasaran ingin membaca. Terbukti, baru setengah halaman saya baca, saya sudah puas dan tidak rugi berjuang mencari buku ini. Dari awal saya membaca hingga sekarang, kurang lebih ada 4 ide topik yang ingin saya tulis hari ini dan saya posting ke blog saya. Sayangnya, blog saya sedang bermasalah, jadi mungkin besok atau lusa baru saya posting, itupun seandainya blog saya dapat kembali normal.

Meskipun kondisi badan sedang tidak mendukung, tapi keinginan dan kecintaan saya akan menulis mengalahkan itu semua, lebay banget deh ya. Bahkan topik yang akan saya tulis berkaitan dengan kondisi badan saya yang sakit ini. So, just reading, and have fun.

Sama seperti Ms. C! yang tidak menyukai orang-orang yang suka mengeluh tapi tidak melakukan apa-apa, saya pun begitu. Anda mungkin juga termasuk orang-orang yang akan saya bahas kali ini.

Dari kemarin, badan saya memang sudah tidak bisa diajak kompromi. Kepala migren, badan meriang, ditambah perut mual membuat saya tidak nafsu makan. Padahal yang membuat saya sakit seperti itu bermula dari kesalahan saya yang telat makan, alhasil, lambung saya ngambek. Ditambah perjalanan panjang dari Yogyakarta menuju rumah di Semarang, kondisi saya semakin memprihatinkan. Begitu sampai di rumah dan bertemu Ibu saya, beliau justru menyalahkan saya karena telat makan. Dan seketika itu juga, saya ingat, saya juga selalu menyalahkan kakak dan teman saya yang sakit akibat kesalahan mereka sendiri.

Bukan bermaksud memamerkan diri, tapi anggap saja sebagai kalimat penjelas, saya adalah orang yang keras dan kurang perhatian. Mungkin karena itu, setiap ada teman atau kakak saya sakit, saya bukannya menghibur mereka tetapi justru mengomeli mereka. Kenapa? Karena mereka sakit akibat kelalaian mereka sendiri. Pernah saya punya teman akrab (yang sekarang tidak akrab lagi) sering sakit-sakitan. Setiap pagi perutnya mual (eits tapi bukan lagi hamil ya), dia memang punya maag akut. Sebagai teman baiknya, setiap pagi sebelum kuliah, saya selalu memastikan apakah dia sudah sarapan atau belum. Waktu itu sebelum saya sempat bertanya tentang kondisinya, dia terlebih dahulu mengatakan bahwa badannya sedang tidak sehat. Balasan saya adalah pertanyaan apakah dia sudah sarapan, dan saya lega ketika dia berkata dia sudah sarapan. Pertanyaan saya lanjutkan “tadi sarapan apa?” dan saya tercengang ketika dia berkata, “aku udah sarapan wafer dua”. Oh God.. saya baru tahu ternyata wafer itu bisa dijadikan sarapan, fiuuh, miris. Yang semula saya iba berubah menjadi omelan panjang ke teman saya itu, intinya “jangan mengeluh sakit kalau penyakitnya kamu buat sendiri.” Pingin rasanya diakhiri kata stupid, tapi saya gak se-heartless itu kok.

Hampir serupa dengan kejadian teman saya, kakak saya juga begitu. Badan kakak saya yang lebih kecil dari saya memang terlihat kurang segar dan seperti orang sakit. Kakak saya juga punya penyakit maag akut dan terkadang suka sakit gak jelas. Ketika sakit gak jelasnya itu kambuh, saya hanya bisa diam, bukan karena sudah kebiasaan melihat dia sakit, tapi karena saya sudah lelah menasehati. Sudah menjadi kebiasaan dan kesukaan kakak saya tidur siang di lantai hanya beralas selimut bali yang tipisnya kayak tisu itu. Alasannya karena dia kepanasan. Dan itu tetap dia lakukan saat sakit gak jelasnya kambuh. Hah, ya sudahlah, gimana bisa sembuh kalau begitu. Mulut saya sampai berbusa menasehati dia.

Nah kan, jadi kalau sakit, yang perlu dilakukan itu minum obat, makan yang banyak, dan istirahat cukup, bukan justru ngeluh ke orang atau malah update ke jejaring sosial. Ckck, useless tauk.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: